beban kognitif

mengapa multitasking justru membuat kita lebih lambat belajar

beban kognitif
I

Saya sering merasa jadi manusia super di hari kerja. Di layar laptop saya ada belasan tab peramban yang terbuka. Jari saya asyik mengetik draf laporan, sementara telinga saya mendengarkan podcast tentang sejarah Romawi kuno. Belum lagi, sesekali mata saya melirik ke arah ponsel untuk membalas pesan di grup WhatsApp keluarga.

Pernahkah kita semua berada di posisi ini? Kita merasa sangat sibuk. Kita merasa sedang meretas waktu. Kita yakin bahwa dengan menjejalkan tiga aktivitas sekaligus ke dalam satu jam, kita akan belajar lebih banyak dan selesai lebih cepat.

Namun, mari kita jujur pada diri sendiri. Saat malam tiba, seberapa banyak informasi dari podcast tadi yang benar-benar kita ingat? Mengapa draf laporan kita ternyata penuh dengan salah ketik? Dan mengapa kepala kita terasa sangat berat, seolah baru saja disuruh berlari maraton?

Rasanya ada yang salah dengan cara kita bekerja dan belajar. Kita merasa produktif, tapi kenyataannya kita hanya jalan di tempat.

II

Mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Tahukah teman-teman dari mana sebenarnya istilah multitasking itu berasal?

Banyak dari kita mengira itu adalah kemampuan alami manusia yang baru berevolusi di era modern. Kenyataannya, kata multitasking pertama kali muncul pada tahun 1965. Kata ini diterbitkan dalam sebuah dokumen rahasia milik IBM.

Tebak untuk siapa kata itu diciptakan? Bukan untuk manusia. Kata itu diciptakan untuk mendeskripsikan kemampuan microprocessor komputer.

Sayangnya, entah sejak kapan, budaya kerja modern mencuri istilah tersebut. Kita memaksa konsep mesin ini masuk ke dalam tengkorak biologis kita. Kita menuntut otak manusia, yang berevolusi perlahan selama ratusan ribu tahun di padang sabana, untuk beroperasi layaknya cip silikon.

Padahal, nenek moyang kita bertahan hidup justru karena mereka sangat fokus pada satu hal pada satu waktu. Saat berburu hewan buas, mereka tidak memikirkan resep makan malam atau membalas sinyal asap dari suku tetangga. Mereka fokus sepenuhnya, atau mereka mati.

III

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat kita memaksa diri melakukan banyak hal sekaligus?

Setiap kali kita berhasil membalas surel sambil mendengarkan tutorial YouTube, otak kita melepaskan sedikit hormon dopamin. Ini adalah hormon penghargaan. Hormon ini membisikkan kebohongan manis: "Kerja bagus, kamu sangat efisien!"

Sensasi dopamin inilah yang membuat kita kecanduan sibuk. Namun, di balik tirai kesibukan itu, ada sebuah misteri besar. Jika kita memang seefisien itu, mengapa waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan justru membengkak? Mengapa saat kita mencoba mempelajari keahlian baru sambil melakukan hal lain, kita jadi sangat lambat paham?

Ada sebuah "biaya siluman" yang sedang ditagih oleh otak kita tanpa kita sadari. Setiap kali kita mengalihkan perhatian, mesin biologis di dalam kepala kita menjerit protes. Kita seperti mengendarai mobil, lalu menginjak gas dan rem secara bergantian dalam kecepatan tinggi. Mesinnya panas, tapi mobilnya tidak ke mana-mana.

IV

Inilah saatnya kita berkenalan dengan sebuah fakta ilmiah yang mengubah cara saya melihat produktivitas. Dalam dunia psikologi kognitif, ada yang namanya Teori Beban Kognitif (Cognitive Load Theory), yang pertama kali digagas oleh John Sweller pada tahun 1980-an.

Mari bayangkan otak kita memiliki sebuah ruang tunggu sementara. Ruang ini bernama working memory atau memori kerja. Tempat inilah yang bertugas memproses informasi baru sebelum dikirim ke gudang ingatan jangka panjang.

Masalahnya, ruang tunggu ini sangat, sangat kecil. Ilmuwan menemukan bahwa memori kerja kita hanya memiliki sekitar 3 hingga 4 kursi kosong.

Saat kita membaca buku, kita memakai dua kursi. Lalu kita mengecek ponsel, ponsel itu merampas sisa kursi yang ada. Tidak ada ruang tersisa. Akibatnya, informasi baru akan saling bertabrakan dan akhirnya terbuang sia-sia ke tempat sampah. Kita tidak sedang belajar, kita hanya membuang-buang data.

Lebih parah lagi, ilmu sains saraf (neuroscience) membuktikan bahwa otak manusia sebenarnya tidak bisa melakukan multitasking. Otak kita tidak memproses dua aktivitas rumit secara bersamaan. Yang sebenarnya otak kita lakukan adalah task-switching—berpindah dari satu tugas ke tugas lain dengan kecepatan luar biasa.

Bayangkan kita sedang mengetik, lalu beralih menjawab pesan. Otak harus melakukan proses ini: hentikan aturan mengetik > hapus memori mengetik > panggil aturan menjawab pesan > mulai memproses pesan. Saat kita kembali mengetik, proses ini diulang dari awal.

Setiap perpindahan ini memakan waktu sekian milidetik dan membakar glukosa di otak kita secara agresif. Penumpukan "biaya perpindahan" inilah yang membuat beban kognitif kita meledak. Kita menjadi lambat berpikir, mudah lupa, dan sangat kelelahan secara mental. Multitasking tidak membuat kita pintar. Ia justru menciptakan hambatan besar dalam proses belajar kita.

V

Mempelajari semua fakta ini memberi saya sebuah pencerahan yang sangat melegakan. Jika selama ini kita sering merasa bodoh, lambat belajar, atau kewalahan, ketahuilah bahwa itu bukan karena kita kurang cerdas.

Itu karena kita memperlakukan otak kita layaknya mesin, padahal kita adalah manusia.

Dunia modern memang selalu berteriak menuntut kita untuk bergerak lebih cepat dan melakukan lebih banyak hal. Namun, sains telah memberikan bukti yang tak terbantahkan. Jika kita benar-benar ingin belajar lebih cepat, mengingat lebih banyak, dan menghasilkan karya yang bermakna, kita harus berani melambat.

Mari kita beri izin pada diri kita sendiri untuk melakukan satu hal pada satu waktu. Tutup tab peramban yang tidak perlu. Jauhkan ponsel saat kita sedang membaca atau belajar hal baru. Mari kita rayakan seni monotasking.

Ketika kita mengurangi beban kognitif yang tidak perlu, kita sedang memberikan ruang bernapas bagi otak kita. Dan di dalam ruang yang tenang itulah, pemahaman yang sejati akhirnya bisa tumbuh dan mekar.